Rabu, 04 Februari 2015

Peranan Indonesia Dalam Percaturan Internasional

Indonesia. Sebuah negara yang terletak diantara dua samudera dan dua benua jika diliahat dari letak geografis. Yakni diantara Samudera Pasifik dan hindia, dan juga diantara Benua Asia dan Australia. Juga jika dilihat dari letak astronomis, negara kita terletak pada 60LU-110LS dan 950BT-1410BT. Berdasarkan posisinya, Indonesia memiliki letak yang sangat strategis dalam segala bidang untuk dikembangkan. Misalnya, Indonesia bisa memaksimalkan potensi kelautannya baik perikanan, militer, dan lain-lain.Itu salah satu hal yang bisa kita kembangkan dari berbagai potensi yang dapat kita miliki. Perkembangan Bangsa Indonesia takkan lepas dengan perannya dalam dunia internasional. Sebelum berjalan lebih jauh, mari kita tanya diri kita sendiri apakah hubungan internasional itu penting? Kalau kita ibaratkan Insonesia adalah seorang individu, Indonesia harus memiliki sikap yang baik terhadap tetangga-tetangganya. Dan untuk memiliki sikap yang baik, tentunya salah satu kemampuan yang wajib dimiliki oleh Indonesia adalah komunikasi yang baik.
Bayangkan saja jika Si Indonesia tidak akrab dengan tetangga-tetangganya, pastinya Si Indonesia ini susah untuk mendapatkan pertolongan jika sedang berada dalam kesusahan. Malah bisa jadi hujatan dari para tetangga-tetangganya. Sebaliknya, jika Si Indonesia memiliki sikap mudah akrab, empati dan komunikasi yang baik, tentunya kalaupun dalam masalah pasti banyak yang menolong meskipun Si Indonesia ini tak meminta. Meskipun pada kenyataannya dalam dunia internasional tak seperti ini keadaannya. Tapi, paling tidak kita sudah mengetahui penting tidaknya memiliki hubungan internasional yang baik. Nah, selanjutnya kita juga harus bertanya lagi pada diri kita sendiri.
Apakah Indonesia sudah melaksanakan hubungan internasional? Untuk hal ini, kita tak bisa mengibaratkan seperti sebelumnya. Tapi kita perlu mencari sumber-sumber atau berita. Kita ambil contoh bukti yang memang berdampak secara langsung, yakni Indonesia pernah mengirim Pasukan Garuda untuk membantu mengamankan dan ikut menyelesaikan konflik Palestina-Israel. Tak hanya itu juga, upaya peningkatan hubungan kerjasama bilateral Indonesia dan Jerman menjadi momentum yang kuat sejalan dengan kunjungan Presiden Republik Federal Jerman, Dr. Christian Wulff ke Indonesia pada tanggal 30 November - 2 Desember 2011 menjelang peringatan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Jerman pada tahun 2012. Kunjungan Presiden Republik Federal Jerman dapat dijadikan acuan dalam rangka memperkuat hubungan kerjasama bilateral Indonesia dan Jerman pada tingkat yang lebih strategis dan komprehensif. Pertemuan bilateral antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Republik Federal Jerman yang dilaksanakan pada tanggal 1 Desember 2011 telah membahas berbagai isu yang fundamental bagi hubungan kedua negara dan prioritas bidang kerjasama di masa mendatang.
Bidang-bidang tersebut yaitu kerjasama Bidang Investasi dan Perdagangan, kerjasama Bidang Kesehatan, kerjasama Bidang Pendidikan, kerjasama Bidang Riset dan Teknologi, dan kerjasama Bidang Industri Pertahanan. Setelah kita mengetahui apakah negara kita telah melaksanakan hubungan internasional, ada baiknya jika kita mengetahui kekuatan dan kelemahan Indonesia dalam percaturan dunia internasional. Dari dulu hingga sekarang Indonesia terkenal dengan negara yang memiliki kepedulian yang tinggi baik terhadap negara-negara tetangga, maupun terhadap negara-negara yang notabene jauh letaknya dari Indonesia. Contoh nyata, pada zaman kekuasaan Presiden Soeharto,
Indonesia sering mengirimkan bantuan-bantuan berupa sumber pangan, obat-obatan, dan lain-lain kepada negara-negara yang sedang dalam peperangan, contohnya negara-negara di Afrika dan negara-negara yang sedang mengalami krisis ekonomi yang dahsyat, contohnya Kamboja, dll.Sehingga, tak heran jika banyak negara-negara yang ingin membuat kerjasama dengan Indonesia, karena secara historis bisa dikatakan bahwa Indonesia adalah negara yang sangat peduli dan bertannggung jawab. Kita lihat keadaan sekarang. Selain yang telah saya sebutkan sebelumnya, Indonesia juga memiliki beberapa kekuatan yang lain. Dalam hal berdiplomasi, Indonesia memiliki diplomat-diplomat ulung. Sehingga memudahkan Indonesia untuk melobby negara lain jika sedang dalam masalah. Hal ini juga bisa dikatakan sebagai warisan dari pahlawan-pahlawan pergerakkan nasional kita. Yang apabila tidak ada mereka, kita belum tentu merasakan Indonesia berdiri tegak sendiri. Selanjutnya, Indonesia juga salah satu negara tempat penanaman modal terbesar bagi negara-negara yang bisa dikatakan memiliki peran yang vital dalam pergerakkan global.
Oleh karena itu, negara-negara tersebut lebih berkecenderungan untuk membela Indonesia ketika Indonesia sedang memiliki permasalahan dengan negara lain. Selanjutnya, Indonesia memiliki sifat tidak membedakan negara-negara dalam penyelesaian masalah. Sehingga negara-negar lain menjadi merasa segan. Dan yang terakhir, menueut saya Indonesia memiliki prinsip politik yang sangat baik, yaitu Bebas Aktif.  Sehingga Indonesia cenderung untuk tidak melakukan diskriminasi terhadap negara-negara di dunia. Setelah mengetahui kekuatan-kekuatannya, sekarang kita menuju ke kelemahan-kelemahannya. Sebenarnya, Indonesia boleh dikatakan sempurna dalam hubungan Internasional. Tetapi ada satu yang membuatnya tidak sempurna. Yaitu sikap terlalu suci dalam menyelesaikan masalah kadang tidak membantu dalam memenangkan perkara. Contohnya dalam beberapa masalah sengketa kepemilikan pulau, properties, hingga budaya, Indonesia sering mengalami kesulitan untuk memenangkan perkara tersebut.
 Contoh kongkretnya yaitu ketika Pulau Sipadan dan Ligitan jatuh ke tangan Negara Malaysia. Meskipun banyak orang yang mengatakan bahwa penyebab lepasnya kedua pulau indah itu karena miskonsepsi mengenai Status Quo kedua pulau tersebut. Sebenarnya itu pihak Malaysia merupakan strategi yang sangat cerdas. Meskipun kedua pulau tersebut sudah dinyatakan dalam Status Quo, pihak Malaysia tetap saja melakukan pembangunan trehadap kedua pulau itu. Sehingga, ketika sesudah dalam pengadilan, Malaysia memiliki dukungan yang lebih dari negara-negara yang terkumpul dalam grup tertentu. Nah, sekarang yang harus kita lakukan adalah mencari tahu langkah-langkah yang harus dilakukian Indonesia agar bisa meningkatkan martabat dan kekuatan di dalam percaturan dunia internasional. Melihat dari kelebihan dan kekuatan yang telah dijelaskan sebelumnya, kita bisa menyimpulkan bahwa hanya satu yang harus dilakukan. Yaitu Indonesia harus memiliki sikap Internasional. Maksudnya, Indonesia bisa melakukan adaptasi baik berupa sikap, dan tata kelakuan. Untuk mewujudkan hal tersebut, kita harus lebih antusias pada isu-isu global baik yang sudah terjadi, sedang terjadi, maupun yang belum terjadi. Bisa dikatakan masyarakat Indonesia kurang responsif jika mendengar isu Internasional.

 Masyarakat Indonesia cenderung lebih antusias untuk merespon isu-isu nasional dari pada internasional. Tapi bukan berarti kita harus meninggalkan isu-isu nasional, tapi yang diperlukan adalah lebih responsif. Semua hal yang telah dijelaskan tersebut bisa menjadikan tolak ukur untuk mengukur seberapa besar peran Indonesia dalam percaturan dunia. Baik dan buruknya Indonesia, inilah negara kita. Oleh karena itu, siapapun kita baik kaum anak-anak, remaja, orang tua, terpelajar dan cendekia, mari kita bangun negara kita dengan menjadi pribadi yang lebih responsif terhadap isu-isu global. Supaya kita bisa menjadi negara yang memiliki kekuatan yang lebih dalam percaturan dunia dan bisa menutupi kekurangan-kekurangan dari negara kita. Sebuah negara ditentukan oleh kerjasama antara masyarakat dan pemerintah. Jika salah satu dari kedua tidak mendukung, harapan kita takkan pernah terwujud. 

Adiwiyata

AGambaran Umum Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) di Indonesia.
Pada awalnya penyelenggaraan PLH di Indonesia dilakukan oleh Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta pada tahun 1975. Pada tahun 1977/1978 rintisan Garis‐garis Besar Program Pengajaran Lingkungan Hidup diujicobakan di 15 Sekolah Dasar Jakarta. Pada tahun 1979 di bawah koordinasi Kantor Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup (Meneg PPLH) dibentuk Pusat Studi Lingkungan (PSL) di berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta, dimana pendidikan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL mulai dikembangkan). Sampai tahun 2010, jumlah PSL yang menjadi Anggota Badan Koordinasi Pusat Studi Lingkungan (BKPSL) telah berkembang menjadi 101 PSL. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departeman Pendidikan Nasional (Ditjen Dikdasmen Depdiknas), menetapkan bahwa penyampaian mata ajar tentang kependudukan dan lingkungan hidup secara integratif dituangkan dalam kurikulum tahun 1984 dengan memasukan materi kependudukan dan lingkungan hidup ke dalam semua mata pelajaran pada tingkat menengah umum dan kejuruan. Tahun 1989/1990 hingga 2007, Ditjen Dikdasmen Depdiknas, melalui Proyek Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH) melaksanakan program Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup; sedangkan Sekolah Berbudaya Lingkungan (SBL) mulai dikembangkan pada tahun 2003 di 120 sekolah. Sampai dengan berakhirnya tahun 2007, proyek PKLH telah berhasil mengembangkan SBL di 470 sekolah, 4 Lembaga Penjamin Mutu (LPMP) dan 2 Pusat Pengembangan Penataran Guru (PPPG).
Prakarsa Pengembangan Lingkungan Hidup juga dilakukan oleh LSM. Pada tahun 1996/1997 terbentuk Jaringan Pendidikan Lingkungan yang beranggotakan LSM yang berminat dan menaruh perhatian terhadap Pendidikan Lingkungan Hidup. Hingga tahun 2010, tercatat 150 anggota Jaringan Pendidikan Lingkungan (JPL, perorangan dan lembaga) yang bergerak dalam pengembangan dan pelaksanaan pendidikan lingkungan hidup. Sedangkan tahun 1998 – 2000 Proyek Swiss Contact berpusat di VEDC (Vocational Education Development Center) Malang mengembangkan Pendidikan Lingkungan Hidup pada Sekolah Menengah Kejuruan melalui 6 PPPG lingkup Kejuruan dengan melakukan pengembangan materi ajar PLH dan berbagai pelatihan lingkungan hidup bagi guru‐guru Sekolah Menengah Kejuruan termasuk guru SD, SMP, dan SMA.
Pada tahun 1996 disepakati kerjasama pertama antara Departemen Pendidikan Nasional dan Kementerian Negara Lingkungan Hidup, yang diperbaharui pada tahun 2005 dan tahun 2010. Sebagai tindak lanjut dari kesepakatan tahun 2005, pada tahun 2006 Kementerian Lingkungan Hidup mengembangkan program pendidikan lingkungan hidup pada jenjang pendidikan dasar dan menengah melalui program Adiwiyata. Program ini dilaksanakan di 10 sekolah di Pulau Jawa sebagai sekolah model dengan melibatkan perguruan tinggi dan LSM yang bergerak di bidang Pendidikan Lingkungan Hidup.
Sejak tahun 2006 sampai 2011 yang ikut partisipasi dalam program Adiwiyata baru mencapai 1.351 sekolah dari 251.415 sekolah (SD, SMP, SMA, SMK) Se‐Indonesia, diantaranya yang mendapat Adiwiyata mandiri : 56 sekolah, Adiwiyata: 113 sekolah, calon Adiwiyata 103 sekolah, atau total yang mendapat penghargaan Adiwiyata mencapai 272 Sekolah (SD, SMP, SMA, SMK) Se‐Indonesia. Dari keadaan tersebut di atas, sebarannya sebagaian besar di pulau Jawa, Bali dan ibu kota propinsi lainnya, jumlah/ kuantitas masih sedikit, hal ini dikarenakan pedoman Adiwiyata yang ada saat ini masih sulit diimplementasikan.
Dilain pihak Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 02 tahun 2009 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Adiwiyata, belum dapat menjawab kendala yang dihadapi daerah, khususnya bagi sekolah yang melaksanakan program Adiwiyata. Hal tersebut terutama kendala dalam penyiapan dokumentasi terkait kebijakan dan pengembangan kurikulum serta, sistem evaluasi dokumen dan penilaian fisik . Dari kendala tersebut diatas, maka dianggap perlu untuk dilakukan penyempurnaan Buku Panduan Pelaksanaan Program Adiwiyata 2012 dan sistem pemberian penghargaan yang tetap merujuk pada kebijakankebijakan yang telah ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kemendikbud. Oleh karenanya diharapkan sekolah yang berminat mengikuti program Adiwiyata tidak merasa terbebani, karena sudah menjadi kewajiban pihak sekolah memenuhi Standar Pendidikan Nasional sebagaimana dilengkapi dan diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.19 tahun 2005, yang dijabarkan dalam 8 standar pengelolaan pendidikan.
Dengan melaksanakan program Adiwiyata akan menciptakan warga sekolah, khususnya peserta didik yang peduli dan berbudaya lingkungan, sekaligus mendukung dan mewujudkan sumberdaya manusia yang memiliki karakter bangsa terhadap perkembangan ekonomi, sosial, dan lingkungannya dalam mencapai pembangunan berkelanjutan di daerah.
B. Pengertian dan tujuan Adiwiyata
ADIWIYATA mempunyai pengertian atau makna sebagai tempat yang baik dan ideal dimana dapat diperoleh segala ilmu pengetahuan dan berbagai norma serta etika yang dapat menjadi dasar manusia menuju terciptanya kesejahteraan hidup kita dan menuju kepada cita‐cita pembangunan berkelanjutan. Tujuan program Adiwiyata adalah mewujudkan warga sekolah yang bertanggung jawab dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup melalui tata kelola sekolah yang baik untuk mendukung pembangunan berkelanjutan
C. Prinsip‐prinsip Dasar Program Adiwiyata
Pelaksanaan Program Adiwiyata diletakkan pada dua prinsip dasar berikut ini;
  1. Partisipatif: Komunitas sekolah terlibat dalam manajemen sekolah yang meliputi keseluruhan proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi sesuai tanggungjawab dan peran.
  2. Berkelanjutan: Seluruh kegiatan harus dilakukan secara terencana dan terus menerus secara komprehensif
D. Komponen Adiwiyata :
Untuk mencapai tujuan program Adiwiyata, maka ditetapkan 4 (empat) komponen program yang menjadi satu kesatuan utuh dalam mencapai sekolah Adiwiyata. Keempat komponen tersebut adalah;
  1. Kebijakan Berwawasan Lingkungan
  2. Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Lingkungan
  3. Kegiatan Lingkungan Berbasis Partisipatif
  4. Pengelolaan Sarana Pendukung Ramah Lingkungan
E. Keuntungan mengikuti Program Adiwiyata
  1. Mendukung pencapaian standar kompetensi/ kompertensi dasar dan standar kompetensi lulusan (SKL) pendidikan dasar dan menengah.
  2. meningkatkan efesiensi penggunaan dana operasional sekolah melalui penghematan dan pengurangan konsumsi dari berbagai sumber daya dan energi.
  3. Menciptakan kebersamaan warga sekolah dan kondisi belajar mengajar yang lebih nyaman dan kondusif.
  4. Menjadi tempat pembelajaran tentang nilai‐nilai pemeliharaan dan pengelolaan lingkungan hidup yang baik dan benar bagi warga sekolah dan masyarakat sekitar.
  5. Meningkatkan upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup meIalui kegiatan pengendalian pencemaran, pengendalian kerusakan dan pelestarian fungsi lingkungan di sekolah.
F. Target Pencapaian Program Adiwiyata sampai dengan 2014
Sebagai upaya menanamkan nilai budaya dan peduli lingkungan di sekolah yang lebih banyak di wilayah Indonesia, maka perlu ditetapkan sebuah target pencapaiannya.